Ibu,
Selamat malam,ibu....Sengaja anak ibu kirimkan surat ini untuk ibu, berharap bisa sampai terbaca oleh ibu. Aku taruh surat ini di atas batu nisan ibu. Aku kabarkan untuk ibu tentang berita aku dan adik-adikku, ibu. Sebelumnya maafkan aku yang tidak akan memberitakan anak-anakku,istriku,ayahku,kakak-kakakku dan cucu-cucu ibu.
Ibu...saat ini aku di alam fana ini baik-baik saja. Perlu ibu ketahui, sekarang ini keinginan ibu yang mendambakan aku menjdi seorang pegawai negeri sudah terkabul. Teringat masa-masa aku msih sekolah, ibu di tempat jualan ibu, ibu selalu bertanya tentang pelajaran yang aku terima di sekolah. Tentunya, sambil mendengarkan pertanyan-pertanyaan ibu, aku, anakmu ini tak henti-hentinya sambil memainkan beras yang ada di tong beras di warung. Ibu, sekarang ini aku sudah penuh menjadi seorang pegawai negeri sipil, seperti yang ibu angan-angankan. ingatkah ibu, saat ibu menanyakan tentang kapan aku menjadi pegawai negeri, aku selalu menjawab"bu, tidak usah dibicarakan tentang itu, bukankah orang kaya akan ngobrol tentang orang miskin, dan begitu pula sebaliknya, orang miskin membicarakan orang kaya, itu semua karena mereka tidak bisa melaksanakan".
Ibu, itu semua sebetulnya adalah sugesti diri aku supaya mampu menggapainya. dan alhamdulillah sekarang tercapai. Ibu, aku tuliskan kabar ini bukan untuk gagah-gagahan. Aku kabarkan ini supaya ibu bahagia, walaupun mungkin rupa ibu secara lahiriah sudah menyatu dengan tanah. Selain untuk mengabarkan kepada ibu, aku juga mencoba sedang latihan menulis, ibu. latihan yang sekarang aku jalani bukan seperti dulu ibu mengajari aku bagaimana cara menulis latin, ini beda ibu. Mungkin akan aku ceritakan apabila aku berada di pusara ibu, itu juga kalau aku tidak lupa, karena biasanya kalu sudah di depan pusara ibu, yang ada dalam hati dan pikiran aku hanya sedih dan lantunan doa untuk ibu.
Ibu....
Aku kabarkan adik-adik semua sehat walaupun wajah-wajah keceriaan mereka sudah terkurangi tanpa kehadiran ibu.
ibu, semoga aku bisa menjaga adik-adik. Aku tahu ibu belum mau berpisah dengan ku dan adik-adik. Namunapa daya, nafas sebagai tanda kehidupan ibu di alam fana ini sudah terhenti, denyut nadi pertanda ada ritme kehidupan ibu juga sudah tiada.
Ibu...
Insya lloh besok siang atau beok sore aku mau sowan ke pusara ibu. Samapi ketemu besok di pusara ibu. Saat aku datang di pusara ibu, semoga ibu bisa memeluk anakmu ini. Ibu, ada yang terlewatkan, pohon rambutan depan rumah sudah berbuah, aku ingat kata-kata ibu, "biarkan buah rambutan itu terlihat sampai ranum, karena pohon itu ada di depan rumah jadi bisa sekaligus penghias halam rumah kita". Ya, ibu memang dulu pencinta bunga. aku kabarkan juga buat ibu, walaupun ini tidak perlu disampaikan kepada ibu, setelah meninggalnya ibu, bunga-bunga di depan rumah banyak yang menyusul ibu, entah karena tidak ada yang merawat, atau mungkin mereka mengikuti kemana ibu.
Ibu, sudah dulu ya. samapi ketemu besok sore di pusara ibu. Semoga nanti tidur anakmu ini bisa ketemu ibu.
Salam hangat anakmu....
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar