Mencari yang tidak ada akan lebih bermakna apabila disertai dengan hati dan jiwa yang bersih

Sabtu, 10 Desember 2011

CASE STUDY


Berharap Sampai ke Relung Hati
Oleh
Dedi Hantoro


             Saya adalah PNS guru di Pemda Kabupaten Banyumas yang di SK Pengangkatan diberi kepercayaan mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Gumelar. Profesi guru adalah impian yang kudambakan sejak SMP. Waktu kelas 1 SMP, saya sudah mulai berlatih mengajar, walaupun sebatas kepada adik saya dan teman-teman sebayanya. Mengajari mereka berhitung, membaca, dan memberikan pengetahuan umum sebatas yang saya ketahui semasa seusia saya adalah suatu kenikmatan yang luar biasa.Sesuai dengan tuntutan isi silabus, materi pokok pembelajarannya adalah cerita.
            Jumat, 24 November 2010, jam pelajaran pertama saya melaksanakan pembelajaran di kelas VII E SMP Negeri 1 Gumelar. Sesuai dengan isi silabus semester 1, saya mengajar Kompetensi Membaca terintegrasi dengan Standar Kompetensi:Memahami makna dalam teks tulis fungsional pendek sangat sederhana yang berkaitan dengan lingkungan terdekat , dan Kompetensi Dasar:  Membaca nyaring bermakna kata, frasa dan kalimat dengan ucapan, tekanan, dan intonasi yang berterima yang berkaitan dengan lingkungan terdekat. Malam sebelum pembelajaran, saya menyiapkan materi yang sesuai dengan RPP.
            Bel tanda masuk bergema, anak-anak kelas VII E dengan sigap berbaris di teras ruang kelas mereka untuk bersiap menyambut saya. Mereka pun berbaris menjadi 2 kelompok. Setelah sampai di depan ruang kelas VII E, seperti biasa, saya berdiri di depan pintu. Satu persatu anak-anak menyalami saya, kemudian diteruskan masuk ke ruang kelas dan dilanjutkan duduk di kursi masing-masing. Saat mereka bersalaman dengan mencium tangan saya, pikiran saya menerawang dan dalam hati berkata, “saya harus benar-benar membuat mereka mampu menangkap pelajaran saya”.
            Setelah semua sudah berada di ruang kelas, saya pun mengikuti mereka memasuki  ruangan. Saya berdiri di depan kelas dan dilanjutkan memberikan perintsh kepada ketua kelas untuk memimpin teman-temannya untuk berdoa.
            “ Morning, Students!”, sapa saya. “Morning, Sir!”, balas mereka. Setelah memanggil mereka satu persatu untuk didata kehadirsnnya pelajaran pun di mulai. Dengan memakai bahasa Indonesia, saya bertanya kepada ana-anak, “Siapa yang sudah pernah melihat surat undangan?”. Mereka berebut menjawab bahwa mereka sudah sering melihat surat udangan. “Undangan Pernikahan,Pak”, Jawab mereka kompak.
Akhirnya saya pun mulai untuk menerangkan undanagan dalaam bahasa Inggris.
“Wah,Pak..Kalau undangan kados ngaten boten nate diengge Pak,”celetuk beberapa anak. Saya pun beberapa saat terkesiap. “Iya bener juga kata kalian.”batin saya. Tidak beberapa lama saya tersadar. “Ya kalau sekarang belum. Tapi di kemudian hari pasti kalian akan gunakan, “jawab saya diplomatis. Setelahproses belajar selesai aaya tutup pelajaran. Namun dalam hati, saya berkecamuk memikirkan tentang ucapan anak didik saya tadi. “Apa selama ini pelajaran yang saya berikan yang sesuai silabus sudah sesuai dengan kondisi social dan kebutuhan mereka untuk memanfaatkan bahasa Inggris sebagai means of communication? , “Tanya saya kepada diri sendiri.
Pertanyaan itu selalu muncul tiap kali saya memasuki ruang kelas untuk mengajar bahasa Inngris kepada anank-anak.
             




Refleksi
Oleh: Penulis

Tulisan case study ini sebagai curahan hati saya akan pengalaman mengajar tentang bahasa Inggris, Melalui tulisan ini, pertanyaan di batin saya semoga dibaca oleh teman-teman lain seprofesi dengan harapan ada banyak masukan. Masuka buat saya supaya memperbaiki pola mengajar sehingga ada link and match dengaan kondisi siswa saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar